welcome to my site

Rabu, 24 Juni 2009

KRISIS GLOBAL DAN PENDIDIKAN

Krisis global…inilah kata yang mulai nge-trend akhir-akhir ini menggantikan kata Globalisasi yang marak terdengar sekitar tahun 2000. Krisis global pada dasarnya tidak terlalu berjauhan dengan globalisasi, artinya keduanya masih memiliki suatu ikatan yaitu meliputi seluruh Negara di dunia, bedanya adalah globalisasi meliputi seluruh aspek kehidupan yang mengalami perubahan jangkauan, sedangkan krisis global penyebabnya hanya aspek ekonomi atau keuangan.
Krisis global bermula dari krisis ekonomi yang melanda Negara digdaya Amerika, banyak yang berpendapat bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Amerika dikarenakan banyaknya uang Negara yang tidak dialokasikan untuk “hal yang benar”. Bukti nyatanya adalah dana yang dialokasikan untuk perang, dana yang sebenarnya bisa dialokasikan untuk hal yang produktif (dapat menghasilkan lebih banyak uang) malah dialihkan untuk membiayai perang yang notabenenya tidak dapat mengembalikan modal, bahkan hanya menyedot lebih banyak pengeluaran.
Dampaknya adalah seluruh Negara di dunia, sadar ataupun tidak pasti terkena imbasnya. Hal ini dikarenakan Amerikalah yang memegang perekonomian dunia dan Negara lain termasuk Indonesia cenderung telah kecanduan dengan produk maupun pinjaman yang diberikan olehnya. Jadi secara otomatis yang terjadi saat sang produsen tidak memiliki banyak produk maka konsumenpun akan mengalami kekurangan pula jika tidak cepat-cepat mencari alternatif lain.
Pada beberapa Negara konsumen seperti Indonesia, krisis global umumnya berdampak pada seluruh aspek kehidupan baik pendidikan, pemerintahan maupun perekonomian itu sendiri. Bukjan tidak mungkin Indonesia bakal menghadapi krisis ekonomi seperti pada tahun 1996, bisa lebih ringan atau bahakn lebih berat. Sedangkan di pemerintahan hal ini akan sangat berpengaruh pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang telah disusun sebelumnya, tentu hal ini akan berpengaruh juga pada stabilitas pemerintah.
Dalam aspek pendidikan sendiri, akhir-akhir ini ramai diperdebatkan soal anggaran pendidikan yang telah ditetapkan sebesar 20% dari APBN oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 16 Agustus 2008 dalam paparan RAPBN (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) yang jika dinominalkan sebesar Rp 224 triliyun.
Tidak sedikit orang yang pesimis akan hal ini, karena mereka beranggapan bahwa dengan tetap mempertahankan anggaran pendidikan sebesar 20% maka akan memperbesar anggaran Negara. Namun, adapula yang optimis bahwa anggaran itu dapat dipenuhi mengingat harga minyak dunia yang menurun hingga mencapai US$ 65 per barel.
Terlepas dari hal ini, kualitas pendidikanlah yang menjadi sorotan dari bertambahnya anggaran pendidikan. Harapannya adalah saat dana yang dialokasikan untuk pendidikan bertambah maka kualitas dari pendidikan Indonesia-pun akan meningkat pula. Dalam hal ini ada semacam hubungan sebab akibat bahwa saat sarana yang disediakan memadai maka pekerjaan akan menjadi lebih mudah dan hasilnyapun lebih memuaskan

Read More......

Sabtu, 25 April 2009

Artikel ku dulu

Keji...
Mungkin itulah kata yang pantas untuk serangan yang Israel lakukan terhadap Palestina. Sungguh suatu tindakan yang tidak bermoral. Dalam peperangan lazimnya warga sipil atau warga yang tidak ikut berperang seharusnya dilindungi dan diungsikan di tempat yang aman, namun dalam hal ini Israel malah bertindak sebaliknya, mereka justru lebih banyak membunuh warga sipil Palestina dibandingkan dengan anggota Hamas. Entah mereka sebut apa itu, kemenangan atau kekalahan. Karena perang sesunguhnya pertarungan antara beberapa kubu, semakin seimbang kekuatan yang dimiliki kubu-kubu tersebut maka kemenangan yang diraih salah satu pihak akan semakin besar maknanya, menang semenang-menangnya. Maka dengan melihat jumlah korban tewas di Israel dibandingkan dengan syuhada Palestina yang kebanyakan anak kecil dan kaum wanita terdapat rentang yang sangat jauh, dimana korban di Israel hanya ratusan jiwa dan di Palestina telah mencapai seribu lebih syuhada. Sekali lagi entah mereka sebut apa ‘keberhasilan’ mereka membunuh warga sipil Palestina.
Menurut Harian Suara Merdeka edisi sabtu, 10 Januari 2009, ada saksi mata yang mnenuturkan bahwa pada tanggal 4 Januari, tentara Israel membawa sekitar 110 warga Palestina yang sebagian besar anak-anak dan wanita untuk diungsikan disebuah rumah di Zeitun, tentara Israel memberi instruksi agar mereka tidak keluar rumah, namun 24 jam setelah itu ternyata rumah tersebut dibom berulangkali oleh tentara Israel hingga 30 orang syahid. Tidak hanya itu saja, tentara Israel pun memborbardir Rumah Sakit, masjid, bahkan sekolah, mereka berdalih bahwa pengeboman yang mereka lakukan karena beranggapan bahwa para pejuang Hamas bersembunyi di belakang warga sipil, jadi pantas saja mereka menyerang warga sipil, wallahu a’lam.
Komisi Internasional Palang Merah (ICRC) menyatakan bahwa Israel tidak membantu warga sipil yang terluka, terbukti saat tim penyelamat menemukan kumpulan anak kecil yang berad di sekeliling mayatIbu mereka. Bahkan tentara Israel juga berusaha mengusir tim penyelamat yang baru berhasil masuk ke wilayah Gaza setelah jalur aman dapat dibuka. Melihat banyaknya warga sipil Palestina yang menjadi korban, saya jadi berpikir seperti halnya orang lain bahwa apakah memang tujuan Israel menyerang Palestina hanya untuk membunuh warga sipil Palestina, bukan memerangi Hamas seperti yang mereka katakan pada publik.
Kekejian yang Israel lakukan sudah berlangsung sejak dulu, dan ternyata tidak terhenti hingga sekarang, dan itu adalah takdir yang telah Allah tetapkan sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Maidah ayat 62 yang artinya :
‘Dan kamu akan melihat banyak diantara mereka (orag Yahudi) berlomba dalam berbuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sunguh sangat buruk apa yang mereka perbuat’
Terlepas dari apa sebenarnya tujuan yang ingin dicapai oleh kedua belah pihak,disana terjadi banyak tindakan yang tidak manusiawi terutama tindakan yang dilakukan oleh Israel terhadap rakyat Palestina. Sebagai mahasiswa, kita adalah bakal pemimpin dunia, sehingga dengan adanya tindakan yang tidak manusiawi ini, sudah sepantasnya kita menunjukkan rasa peduli kita pada sesama muslim di Palestina. Banyak hal yang dapat kita lakukan, seperti mengadakan aksi damai menentang serangan Israel ke Palestina, menggalang dana untuk dikirim pada Palestina, ikut serta membantu Palestina dengan berjihad melawan Israel, tidak membeli produk yang disinyalir dananya digunakan untuk mensenjatai tentara Israel (produk yag diboikot), dan berdoa untuk kemerdekaan dan keamanan rakyat Palestina.
Dari beberapa hal di atas yang tidak mungkin kita lakukan adalah dengan berjuhad ikut membantu melawan Israel di Palestina, karena meskipun kita tahu bagaimana cara beladiri dan menggunakan senjata namun kita tidak mengetahui bagaimana sebenarnya medan tempur yang akan kita hadapai, jadi jika kita tetap berperang sedangkan kita tidak mengetahui medan yang dihadapi maka kita seakan hanya bunuh diri menyerahkan nyawa. Sedangkan hal yang dapat kita lakukan adalah dengan menggalang dana dan tidak memakai produk-produk yang dinyatakan diboikot, serta hal lain yang paling mudah untuk kita lakukan adalah dengan berdoa untuk keamanan warga Palestina karena doa adalah selemah-lemah iman, maka berdoa adalah hal yang paling mungkin kita lakukan jika kita tidak mampu baik fisik maupun material. Jadi sebagai seorang pemuda, hendaknya kita mampu menunjukkan rasa empati kita untuk saudara seiman di Palestina, dengan mengurangi kegiatan yang mubadzir dan hanya bersenang-senang tanpa manfaat serta dengan doa yang baik untuk saudara kita di Palestina. Semoga mereka segera diberi keamanan dan kemenangan oleh Allah SWT.

Read More......

indahnya silaturahmi

Jika kita menilik lagi tahun-tahun yang telah lalu,, kira-kira apa sih yang sering kita bayangkan… apakah itu teman-teman kita atau wajah kita yang dulunya rupawan tapi sekarang berubah hanya jadi lumayan?? Ataukah hal-hal lainnya seperti idola kita yang sekarang terkena gosip penggunaan obat terlarang padahal dulu mereka (sang idola) pernah mengadakan konser dengan tema perangi narkoba, atau hal yang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan keberlangsungan hidup kita?hehe.. tidak mungkin kan ya….

Semua itu adalah suatu kenangan. Kenangan akan sesuatu yang kita rasa penting bagi kisah hidup kita, atau paling tidak suatu hal sepele yang pernah terjadi selama perjalanan hidup yang telah kita lalui. Dan survey telah membuktikan (survey pribadi), sepanjang pengalaman dan cerita dari beberapa teman, saya lebih sering mendengar mereka menceritakan tentang orang lain daripada bercerita akan dirinya, meski kadang juga mereka bercerita tentang betapa ‘beruntung’ atau betapa ‘nelangsanya aku’, tapi saat bercerita tentang orang lain mereka seakan lebih terlihat bersemangat. Misalnya saja seorang yang menceritakan tentang betapa baiknya sang teman (atau betapa buruknya_), dengan bersemangat ia akan memberikan berjuta-juta contoh kebaikan temannya dan membandingkan dengan ‘musuhnya’ yang na’udzubillah, adapula seorang yang dengan bangga menceritakan kehebatan kenalannya yang berprofesi sebagai seorang Publik Figur, padahal ia hannya kenal dan baru bertemu sekali dengan sang Publik Figur. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan orang lain dalam hidup kita sangat berjasa dalam mewarnai liku perjalanan yang kita lewati.

Mereka (teman, kenalan atau keluarga) adalah segelintir orang yang telah kita kenal selama ini. Entah sadar atau tidak, sedikit banyak mereka telah membentuk kepribadian kita hingga menjadi seperti sekarang, karena setiap proses hidup yang kita alami dilalui bersama sebagian dari mereka, jadi mau tidak mau mereka akan selalu hadir dalam hidup kita untuk memberikan berbagai pengaruh yang positif maupun negatif. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika kita berada di sekitar orang-orang yang positif, baik dalam hal pendidikan, pemikiran dan yang terpenting adalah dalam hal ruhiyah atau agama. Karena dengan berada di lingkungan yang semacam ini pemikiran dan tingkah laku kitapun akan terbentuk dengan dasar yang demikian.

Setelah kita berada di lingkungan ini, tentunya kita juga tidak dapat lepas hubungan dengan mereka. Kita butuh akan suatu ikatan yang dapat menjaga hubungan yang baik.

Read More......